Jika ada makhluk yang harusnya di beri lifetime achievement, rasanya ibu lah yang berhak mendapatkannya.
Hari ini, aku harus mengurus sesuatu di suatu tempat. Ketiadaan pengasuh membuat urus titip menitip anak menjadi agak merepotkan. Lagi-lagi, ialah tempatku berpaling, ibuku.
Malu dan kecil hati rasanya, lagi-lagi aku meminta waktu beliau untuk menjaga anakku yang bungsu. Lagi dan lagi. "Memangnya ibu gue baby sitter?" tapi, apa daya hiks. Pencarian pengasuh belum menuai hasil, jadi mau tak mau beliaulah tempatku berpaling.
Anakku, camkan ini dalam pikiranmu, camkan dalam-dalam. jika nanti kau besar, jangan tiru ibumu. Kalaupun nanti aku mau kau titipi anakmu, tapi jangan biasakan itu dalam hatimu. Meski aku akan ikhlas seikhlasnya menjaga cucuku, tapi selalu simpan belas kasihanmu padaku. Meski aku yang memintanya, tapi kau tolaklah dengan halus selagi kau mampu. Dan bila segala usaha telah kau lakukan namun kau terpaksa menitipkan anak padaku, yakinilah bahwa aku melakukannya tanpa pamrih, dengan penuh doa. Jadi, tak ada rasa bersalah di antara kita berdua. Win to win solution.
Setelah aku amati beberapa kasus yang sama denganku, meski para nenek senang dititipi cucu, ada beberapa hal yang akhirnya patut membuat kita kasihan pada ibu kita:
1. Jadwal mengaji mereka menjadi terganggu. Sudah berpuluh umur ia habiskan untuk mengurus orang lain, bukankah hak ibu untuk mereguk ilmu sepuas-puasnya?
2. Jadwal tidur siang terganggu. KEcuali anak kita memiliki waktu tidur siang lumayan sama dengan neneknya
3. keluhan Sakit pinggang, nyeri otot, pegal-pegal, sakit kepala menjadi bertambah. Tetapi herannya akan hilang bila ketitipan cucu lagi.
4. Urusan mereka jadi terganggu. Jadwal kontrol dokter, jadwal arisan, semua menjadi berubah. meski yakin mereka tidak mengeluh, tapi rasanya kelewatan jika kita tak memikirkannya.
Solusi dari semua itu, dari yang paling mungkin sampai nyaris tidak mungkin:
1. pastinya mencari pengasuh yang tepat. Masalahnya ini juga tak mudah. Dan lagi, jika pun ada pengasuh, apakah kita rela melepaskan si kecil hanya dengan pengasuhnya saja, ketika ada kesempatan untuk menitipkannya pada ibu?
2. Masukkan anak ke tempat penitipan anak. Tapi, di mana tempat yang paling dipercaya kecuali TPC (tempat penitipan cucu alias rumah nenek?).
3. Alternatif lain, jadwal nenek tidak terganggu dengan tetap mengajak cucu-cucunya masuk dalam jadwal tersebut. Yang terlihat adalah fenomena saat ini. PEngajian nenek-nenek tapi di antaranya ada anak-anak balita yang menyimak. LEbih baik lagi jika saat mengaji itu, pengasuh diajak serta, sehingga, pengasuh pun mendapatkan siraman ruhani. Kalaupun ada yang bertanya, ibu kita akan menjawab enteng: biasa buuu, cucu. maklum ibunya lagi repot (Hehe..)
4. Alternatif yang paling manusiawi, tapi rasanya susah buatku. Menjadi 100 persen DRS alias di rumah saja. atau membawa anak-anak kemanapun kita pergi. Tapi kayaknya yang ini kok ya paling susah ya. (la wong kamu yang ngelahirin, kok gak mau tanggung jawab to, hehe lagi)
Untuk itu, kalau aku punya kesempatan memberikan piala lifetime achievement, pastinya ibuku adalah orang pertama dan selalu pertama yang akan mendapatkannya. Terimakasih ibu, you re always the best. And for my children, kapanpun kalian menitipkan anak-anak, ibumu insya Allah siap. Tapi dengan catatan di atas.
And for my self. Hari ini, suara keras nyaris nol, pemaksaan nyaris nol, dan anak-anakku begitu manis ditinggal oleh ibunya. Makasih sayang. love you.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment