Monday, January 18, 2010

day 2 - menitip anak

Jika ada makhluk yang harusnya di beri lifetime achievement, rasanya ibu lah yang berhak mendapatkannya.
Hari ini, aku harus mengurus sesuatu di suatu tempat. Ketiadaan pengasuh membuat urus titip menitip anak menjadi agak merepotkan. Lagi-lagi, ialah tempatku berpaling, ibuku.
Malu dan kecil hati rasanya, lagi-lagi aku meminta waktu beliau untuk menjaga anakku yang bungsu. Lagi dan lagi. "Memangnya ibu gue baby sitter?" tapi, apa daya hiks. Pencarian pengasuh belum menuai hasil, jadi mau tak mau beliaulah tempatku berpaling.

Anakku, camkan ini dalam pikiranmu, camkan dalam-dalam. jika nanti kau besar, jangan tiru ibumu. Kalaupun nanti aku mau kau titipi anakmu, tapi jangan biasakan itu dalam hatimu. Meski aku akan ikhlas seikhlasnya menjaga cucuku, tapi selalu simpan belas kasihanmu padaku. Meski aku yang memintanya, tapi kau tolaklah dengan halus selagi kau mampu. Dan bila segala usaha telah kau lakukan namun kau terpaksa menitipkan anak padaku, yakinilah bahwa aku melakukannya tanpa pamrih, dengan penuh doa. Jadi, tak ada rasa bersalah di antara kita berdua. Win to win solution.

Setelah aku amati beberapa kasus yang sama denganku, meski para nenek senang dititipi cucu, ada beberapa hal yang akhirnya patut membuat kita kasihan pada ibu kita:
1. Jadwal mengaji mereka menjadi terganggu. Sudah berpuluh umur ia habiskan untuk mengurus orang lain, bukankah hak ibu untuk mereguk ilmu sepuas-puasnya?
2. Jadwal tidur siang terganggu. KEcuali anak kita memiliki waktu tidur siang lumayan sama dengan neneknya
3. keluhan Sakit pinggang, nyeri otot, pegal-pegal, sakit kepala menjadi bertambah. Tetapi herannya akan hilang bila ketitipan cucu lagi.
4. Urusan mereka jadi terganggu. Jadwal kontrol dokter, jadwal arisan, semua menjadi berubah. meski yakin mereka tidak mengeluh, tapi rasanya kelewatan jika kita tak memikirkannya.

Solusi dari semua itu, dari yang paling mungkin sampai nyaris tidak mungkin:
1. pastinya mencari pengasuh yang tepat. Masalahnya ini juga tak mudah. Dan lagi, jika pun ada pengasuh, apakah kita rela melepaskan si kecil hanya dengan pengasuhnya saja, ketika ada kesempatan untuk menitipkannya pada ibu?
2. Masukkan anak ke tempat penitipan anak. Tapi, di mana tempat yang paling dipercaya kecuali TPC (tempat penitipan cucu alias rumah nenek?).
3. Alternatif lain, jadwal nenek tidak terganggu dengan tetap mengajak cucu-cucunya masuk dalam jadwal tersebut. Yang terlihat adalah fenomena saat ini. PEngajian nenek-nenek tapi di antaranya ada anak-anak balita yang menyimak. LEbih baik lagi jika saat mengaji itu, pengasuh diajak serta, sehingga, pengasuh pun mendapatkan siraman ruhani. Kalaupun ada yang bertanya, ibu kita akan menjawab enteng: biasa buuu, cucu. maklum ibunya lagi repot (Hehe..)
4. Alternatif yang paling manusiawi, tapi rasanya susah buatku. Menjadi 100 persen DRS alias di rumah saja. atau membawa anak-anak kemanapun kita pergi. Tapi kayaknya yang ini kok ya paling susah ya. (la wong kamu yang ngelahirin, kok gak mau tanggung jawab to, hehe lagi)

Untuk itu, kalau aku punya kesempatan memberikan piala lifetime achievement, pastinya ibuku adalah orang pertama dan selalu pertama yang akan mendapatkannya. Terimakasih ibu, you re always the best. And for my children, kapanpun kalian menitipkan anak-anak, ibumu insya Allah siap. Tapi dengan catatan di atas.

And for my self. Hari ini, suara keras nyaris nol, pemaksaan nyaris nol, dan anak-anakku begitu manis ditinggal oleh ibunya. Makasih sayang. love you.

Sunday, January 17, 2010

day one - cleaning time!

Setelah kembali dari tugas PTT (Pegawai Tidak Tetap) selama tiga tahun di Lebak Banten dan kembali berkumpul seutuhnya di rumahku nan mungil di sini, aku mencoba membuat daftar hal-hal yang perlu aku perbaiki perihal manajemen kerumahtanggaan. Well, mungkin sebelumnya biar kubuat daftar masalahnya terlebih dahulu:
1. Sulitnya mencari asisten pengasuh (pengasuh utama tentunya adalah ibu)
2. Sulitnya mengatur menu makan sehari-hari yang bisa memenuhi selera semua anggota keluarga (tidak termasuk dua kura-kura dan sembilan ikan mas campur patin albino di kolam)
3. Rumah selalu kelihatan berantakan (ada empat orang dewasa -dua di antaranya bisa menjadi sumber kekacauan letak barang-, dua anak kecil -kalau ini sih wajar), tidak punya orang yang bersih-bersih pula
4. Rumah jauh dari pusat jualan makanan dan tak punya orang yang bisa disuruh-suruh
5. seorang ibu yang tidak terorganisasi
6. Dua anak kecil yang kritis, kreatif,dan siap dibina

Nah, berdasarkan enam masalah ini, aku mencoba mengatasi hal termudah dulu.
1.Membuat jadwal yang mencakup
a.Jadwal sekolah anak
b. Jadwal pergi ibu
c. Jadwal membuat menu
d. Jadwal bersih-bersih
e. Jadwal belanja: harian, mingguan, bulanan
f. Reminder Super, yang disiapkan khusus untuk ibu pemalas dan disorganised
g.Jadwal belajar anak: Mengulang hapalan ayat, membaca Arab, PR, belajar ulangan, untuk yang besar. Iqro, baca kartu, buku aktivitas untuk yang kecil.
h. Jadwal me-and-you time khusus untuk si sulung dan si bungsu
i. Jadwal rekreasi,baik rekreasi keluarga ataupun nge-date dengan suami
j. Jadwal nonton tivi
mmm...ada yang lupa gak ya?

Nah, baiklah, karena rumah dalam keadaan perlu penyelamatan, jadwal bersih-bersih kumulai hari ini. Sbnrnya ini bukan yang pertama aku bikinjadwal bersih-bersih. Tapi, mungkin baru kali ini aku niatkan untuk memberi pelajaran tentang tanggung jawab, kerja sama, dan kebersihan langsung pada anak-anakku.

Hari ini pelajaran menyikat sofa, membersihkan mainan, dan menyikat kamar mandi. Ku mulai dengan sedikit briefing pada prajurit-prajurit kecilku. Yang, tentu saja, tak mereka dengar. Oke, sepertinya akan berlangsung baik. Tapi, like you guess, yeah...pertengkaran dan perebutan kekuasaan di sana sini.
DI mulai dari sikat kecil dan seember air sabun untuk menyikat sofa. Si sulung menginginkan sikat kecil kuning dengan bulu-bulu warna-warni mainan milik adiknya, akhirnya pertengkaran pertama di pagi yang cerah sudah di mulai. Setelah meminjam sikat baju milik si mBak cuci, akhirnya maulah si sulung berdamai.
Sip, aman sesaat. Tujuh menit kemudian, terjadi kerusuhan, sofa rubuh. Oh Subhanallah. Berlanjut lagi pada sesi mengelap kaca. Yang Alhamdulillah berakhir cukup damai, dengan anak-anakku kelaparan dan menyuap lahap santapan sarapan "agak siang" mereka.

Hari ini menjadi hari yang amat melelahkan. Itu hanya untuk mewujudkan salah satu subpoin kecil dari poin kecil "jadwal bersih-bersih". Anak-anakku, ibu hari ini belajar banyak darimu. Meski aku mencatat ada 10 kali suara keras (kalau tidak mau disebut bentakan), dan dua kali pemaksaan untuk mematikan televisi dan mengambil komputer yang menjadi rebutan, aku pikir aku lumayanlah.

Not bad for a beginner. Now it s time to write it. Hope, you can read that someday. Thanks again my sweet little children. Love you.

Day one - of being a mother

Hari ini, adalah hari pertama aku bertekad untuk menulis. Semua tentang perih manisnya menjadi ibu dari dua anak manisku. Memang terlambat sudah, 7 tahun lebih aku diberi kesempatan untuk berdekatan dengan mereka. Tapi baru akhir-akhir ini aku menyadari, bahwa peranku tak hanya hadir saat mereka bagi rapot, atau pergi mengantarkan mereka imunisasi.
Dulu aku menganggap aku sudah menjadi ibu yang baik untuk mereka. Ternyata, tak ada kata lain selain penyesalan. Yang teramat dalam.
Secara fisik, mungkin kebutuhan mereka terpenuhi, tapi apakah aku telah menjadi sebenar-benarnya ibu untuk mereka?

Maka, demi anak-anakku, aku ingin memulai kembali. Meski dari nol. Meski agak terlambat. SUdilah kiranya Engkau menerima maaf dari ibumu, yang masih harus belajar, untuk menjadi panutan, sahabat, kekasihmu. Anak-anakku sayang, ajari ibumu untuk mencinta, tulus, setulus tatapan kalian.